Sabtu, 09 Februari 2013

sang guru yang karismatik

Minal Mahdi Ilal Lahdi

Halo teman - teman AA' joe datang lagi di sini, sepertinya masih ada yang mau AA' joe bagikan nie masih seputar tentang PP. Roudlothuth Tholibin, kali ini AA' joe akan bercerita mengenahi Minal Mahdi Ilal Lahdi guru besar Q-ta, tentu teman - teman semua penasaran seperti apa sih Minal Mahdi Ilal Lahdi pada guru besar PP. Roudlothuth Tholibin, nah sekarang Q-ta kembali ke laptop, ea .... salah ya ? maksudnya kembali ke pokok bahasan di atas, begini ceritanya teman - teman :

Pada tanggal 7 Juli 1937 M. KH. Muhammad Marwan AH. Beliau lahir dari seorang Ibu yang bernama Mbah Srinem, beliau di asuh oleh ibunya sendiri sejak kecil karena pada usia 6 tahun sudah di tinggal ayahnya yang bernama Mbah Parmo. Kedua orang tuanya adalah seorang yang sangat cinta kepada para Kyai, tiap kali ada acara di desanya yang di hadiri oleh seorang Kyai pasti keduanya menyambutnya di urutan paling depan, kiranya kehendak Allah akan mewujudkan bahwa putra beliau akan menjadi seorang 'Ulama, sehingga begitu memuliakan dan tawadhu' beliau kepada para Kyai. Demikian kiranya yang di amalkan oleh kedua orang tua Hadlorotusy Syeh yang pada akhirnya putranya berhasil menjadi seorang 'Ulama besar dan sebagai pendiri Pondok Pesantren
Roudlothuth Tholibin.
Seperti yang di ungkapkan oleh Imam Sadiduddin Asy Syairozi dalam kitab Ta'limul Muta'alim.

من اراد ان يكن ابنه عالما فليكرم الغرباء من الفقهاء وان لم يكن ابنه عالما فحا فدوه عالما (تعليم المتعلم)؛

"barang siapa yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang 'alim maka hendaknya mamuliakan para 'Ulama dan apabila anaknya tidak menjadi 'alim maka cucunya yang akan menjadi seorang 'Ulama"

Pada masa kecil Hadlorotusy Syeh selalu mendapat perhatian khusus dari ibunya untuk mempelajari ilmu agama, dan beliau bercita - cita agar kelak putranya dapat menjadi orang 'alim. Pertama kali Hadlorotusy Syeh belajar kepada Syeh 'Abdulloh Sajad, beliau adalah 'Ulama yang berjiwa besar, perjuangannya tidak menetap, dimana beliau singgah di situ beliau mendirikan masjid, seperti di desa Jragung ini.

Pada suatu hari Mbah Kyai 'Abdulloh Sajad mendapat firasoh dari Alloh akan munculnya 'Ulama besar di Jragung, sejak kecil Hadlorotusy Syeh di jadikan sebagai anak angkatnya, Kyai Sajad mendidiknya dengan penuh perhatian layaknya seorang bapak kepada anaknya, setelah dewasa Hdlorotusy Syeh menimba ilmu di Salatiga untuk ngaji pada Kyai Ishom bin 'Abdul Jalil Mbanca'an Salatiga, kemudian Hadlorotusy Syeh meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen, di sana Hadlorotusy Syeh berguru pada KH. Mushlih bin 'Abdurrahman, selama di Futuhiyyah Hadlorotusy Syeh mendapat gemblengan lahir batin, sampe Hadlorotusy Syeh mendapat kepercaya'an menjadi guru besar "Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Naqsabandiyyah". Selain di Pon - Pes Futuhiyyah Hadlorotusy Syeh pernah nyantri di Pondok salaf yang terkenal seperti Pondok Pesantren Sarang Rembang Pare Kediri Jawa Timur , dsb. Setelah di pandang oleh gurunya (Simbah KH. Mushlih) Syari'ahnya sudah mampu/cukup Hadlorotusy Syeh mendapat restu untuk menghafalkan Al - Qur'an, kemudian Hadlorotusy Syeh di dawuhi menghafalkan di hadapan KH. Arwani Kudus, yang paling terkesan oleh Hadlorotusy Syeh sebelum berangkat ke kudus, Hadlorotusy Syeh sowan dulu ke Simbah Kyai Siroth Solo masyhur ke 'arifannya. Beliau menadapat dawuh ....... "Seliramu ngapalke Qur'an sepuluh wulan opo sepuluh tahun" ...... Akhirnya Hadlorotusy Syeh berfikir, sepuluh wulan hiyo berat, sepuluh tahun hiyo berat, sama - sama berat. Singkat cerita Hadlorotusy Syeh mendapat hidayah dari Alloh SWT. Al - Qur'an dapat di hafalkan dalam sepuluh bulan dan di lanjutkan qiro'ah sab'ah dua tahun di hadapan Simbah KH. Abdul Wahab Kudus atas restu Simbah KH. Arwani Amin, dari Kudus inilah Hadlorotusy Syeh mulai berjuang untuk menegakkan agama Islam dengan ilmu dan amalnya.

Perjuangan Hadlorotusy Syeh di awali dengan mendirikan Pondok Pesantren di Jragung, konon Hadlorotusy Syeh mau mendirikan Pondok di Sumatra, karena Simbah Kyai Arwani tidak merestui maka Hadlorotusy Syeh mendirikan Pondok Pesantren di Jragung dengan nama "Roudlothuth Tholibin" yang kita kenal ini dan Al chamdulillah atas restu sang guru, perjuangannyapun sampai di Sumatra.

Dari Pondok Pesantren Roudlothuth Tholibin ini, beliau mulai di kenal masyarakat luas, dari kalangan awam hingga pejabat, semuanya menaruh hormat kepada beliau, karena ilmu dan amalnya yang ikhlas semata - mata karena Alloh, beliau juga terkenal karena tawadlu'nya bahkan setiap ngaji belau selalu dawuh ........

تواضع تكن كالنجم لحا للنا ظر # على طباقه الماء وهو رفيع

Rendahkan dirimu maka engkau laksana bintang yang bersinar, bagi orang yang memandang seperti hamparan air yang selalu di atas walaupun mengalir ke bawah

ولاتك كالدخان يعلو بنفسه # الى طباقه الجو وهو وضيع

Janganlah kamu seperti asap membumbung tinggi dengan sendirinya ke angkasa, sedangkan asap itu rendah tak punya arti

Dengan tawadlu'lah seorang berilmu mendapat derajat yang tinggi di sisi Alloh, dan seperti itulah kepribadian Hadlorotusy Syeh mendapat sanjungan "Ora ono kyai seng tawadlu' zaman saiki, koyo tawadlu'e Simbah Kyai Marwan" (Dawuh KH. Achmad Muthohar Mranggen).
Semangat perjuangan yang di miliki Hadlorotusy Syeh sangat besar, tak pernah surut walau banyak aral yang melintang, banyak sudah buah karya dan pemikiran - pemikiran beliau untuk mensiarkan agama islam serta ikut andil dalam mencerdaskan bangsa.
Dalam bidang pendidikan formal Hadlorotusy Syeh marintis berdirinya yayasan Miftahul 'Ulum (MI, Madin, Mts) dan sebelum naik haji Hadlorotusy Syeh mendirikan SMU, yang kesemuanya di persembahkan untuk masyarakat jragung khususnya, kaum muslimin pada umumnya.
Hadlorotusy Syeh merupakan 'Ulama yang berjiwa besar, berwawasan nasional dan menjunjung tinggi nilai - nilai peradapan, sudah pasti cita - citanya yang luhur akan selalu menjadi bukti, sekalipun Hadlorotusy Syeh telah tiada tapi namanya tetap hidup sapanjang masa.
Hadlorotusy Syeh wafat pada tanggal 20 Mei 2002 M./6 Rabiul Awal 1423 H. tepat pukul 20.25 WIB. Di RSI Roemani Semarang. Hdlorotusy Syeh menderita penyakit sejak dari tanah suci seusai menunaikan ibadah haji.

Tidak ada seorang yang tahu kapan ajal itu tiba, yang ada hanya firasoh (tanda - tanta) yang baru dapat di pahami setelah ajal itu tiba, begitu saja Hadlorotusy Syeh ketika naik haji kali ini yang ke 4 pada tahun 2002 tidak seperti yang sebelumnya, Hdlorotusy Syeh banyak memberi wasiat kepada para santri, kepada keluarga khususnya kepada anak mantunya Bapak KH. ACH. ASRORI LATHIF AH. yang sekarang menjadi penerus perjuangannya. Sebelum berangkat Hadlorotusy Syeh berwasiat pada anak mantunya "semongso - mongso aku ono 'udzur ingkang nerusake pengajian thoriqoh anakku Asrori". Ini merupakan firasoh bahwa Hadlorotusy Syeh akan pergi selamanya.

Sekian lama Hadlorotusy Syeh di rawat di rumah sakit tidak pernah mengeluh sedikitpun, namun beliau tetap tawakkal kepada Alloh SWT. Sampailah di hari kamis pada tanggal 17 Mei 2002 M./2 Rabi'ul Awal 1423 H. di mana hari itu hari bersejarah menjelang detik - detik terakhir Hadlorotusy Syeh sempat mengkhotamkan Al - Qur'an walau dalam keada'an berbaring. Malam harinya kira - kira pukul 02.00 dini hari Hadlorotusy Syeh menerima tamu para 'ulama secara ghoib, di antaranya sayid Muhammad Al - Maliki dari makkah, dan Hadlorotusy Syeh berwasiat kepada para santri "kabeh santriku tak jaluk tetep istiqomah ono pondok, nderes lan maju menyang Asrori, maju menyang Asrori podo karo maju menyang aku" malam jum'at tanggal 18 Mei 2002 M./3 R. Awal 1423 H. Pada malam sabtu 19 Mei 2002 M./4 R. Awal 1423 H. keada'an beliau sudah sangat kritis sehingga oleh dokter Hadlorotusy Syeh di tempatkan di ruang intensif. Di ruang inilah beliau kembali berwasiat kepada santri - santri "aku jalukke ngapuro kabeh santri, aku wis ora biso mulang". Sabtu pagi tanggal 19 Mei 2002 M./4 R, Awal 1423 H. jam 10.00 WIB.
Pada hari ahad kondisi Hadlorotusy Syeh semakin menurun, tepat ba'da magrib malam senin tanggal 20 Mei 2002 M./5 R. Awal 1423 H. Hadlorotusy Syeh berwasiat kepada penulis. "Syarqowi rene, aku ojo kok tinggal mengko kiro - kiro jam songo aku arep lungo suwe". Dan kenyata'an tepat pukul 20.25 WIB. Hadlorotusy Syeh pulang kehadirat Alloh SWT. Dengan membaca .........

استغفرالله العظيم الذى لااله الاهوالحى القيوم واتوب اليه

Demikian akhir dari orang yang sholeh yang dekat dengan Alloh SWT. Seakan - akan beliau mengetahui sesuatu yang bakal terjadi.

انا لله وانا اليه راجعون

Pada hari senin 21 Mei 2002 M./6 R. Awal 1423 H. Jragung bagaikan lautan Manusia, mereka datang untuk berta'ziah, memberi hormat terakhir kepada Hadlorotusy Syeh. Hari itu juga jragung cerah tak berawan namun hujan air mata cukup deras membanjiri pondok pesantren Roudlothuth Tholibin.

Hadlorotusy Syeh di semayamkan untuk selama - lamanya, setiap waktu tak henti - hentinya para santri membaca Al - Qur'an di pesarehan beliau, dan semoga kita bisa mengambil suri tauladan darinya amin amin amin ya robbal 'alamin.

ان الله يعلى درجاته فى الجنة وينفعنا به وبعلومه ويمدنا باسراره وانواره ويعيد علينا من بركاته ويرزقنا ببركاته ويحفظنا بجاه عندالله فى الدين والدنيا والأخره ... امين

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar